...

Wednesday, April 27, 2011

Mimpi itu Punya arti

Saat ini...saat gelap berubah menjadi terang ini..saat mentari telah kembali pada perantauannya menempuh perjalanan malam
aku tersadar dari lamunan yang menyeretku pada dimensi yang tak pernah ku mengerti apa sebenarnya maksud dari alam ini
wahana yang penuh cerita maya yang terkadang juga menjadi petunjuk pada dunia kita.
ke-maya-annya selalu menjadi misteri pada manusia karena tak semua dari kita dapat dengan cermat mengerti akan apa yang dia ceritakan pada diri kita.
entah ini nyata atau ini hanya ilusi,
ini pertanda atau hanya sebatas pemanis pada lamunan pandang pada bintang dan rembulan
Mimpi itu benar-benar tak pernah memberi sesuatu yang pasti
Cinta, harapan, suka-duka dapat dengan mudahnya dia ceritakan malam ini
Sang waktu yang membawanya terus kembali setiap pergantian hari
mengingatkan kita bahwa Mimpi ini tidak mungkin tanpa makna
sesuatu yang tetap tak mungkin lepas dari kekuatan Kehendak-Nya
Dan berpijak pada satu keyakinan bahwa apa yang lewat dari Pangestu-Nya adalah hal yang selalu membawa hikmah, memberi manfaat pada hambanya
kita dapat bertolak pada cerita dunia maya itu takan mungkin tanpa pesan
masih tetap disini...tetap mencoba mengerti apa makna dari semua ini
Misteri cerita malam dan nyanyian rembulan memang bukan hal yang mudah untuk diungkap

Hanya kepada-Mu aku tetap menggantungkan harapanku akan jawaban misteri mimpi
Jika Engkau memberi ku semua ini, semua yang aku ikhtiarkan hanya kusandarkan pada-Mu kembali
Aku lemah tanpa semua yang Kau beri...aku tak kan dapat memberi arti
Jika malam ini berganti kembali, semoga cahaya petunjuk itu dapat segera Kau tunjukan nanti

Monday, April 25, 2011

Pemimpin dalam Fiksi

Dunia pewayangan (wayang kulit) melalui tokoh-tokohnya sebenarnya memuat banyak simbol dan karakteristik watak manusia. Sejumlah tokoh pewayangan dengan jelas juga merupakan simbol karakteristik pria. Seperti tokoh Arjuna, pria lambang ketampanan, Yudhistira suka perdamaian, Bima adalah pria yang mahal dalam cinta dan tidak gampang tertarik terhadap perempuan.
Sang Semar. Walau hanya seorang punakawan, sebenarnya Semar adalah turunan dari bangsawan, bahkan saudara Sang Hyang Guru Nata (dewa dari seluruh dewa) di Kahyangan. Walaupun Semar dikenal sebagai orang papa, ia memiliki insting yang sangat tajam, intuitif, dan memiliki watak kedewaan. Semar senantiasa adil dan bijak dalam memutuskan setiap masalah atau perkara. Bila diperintah menumpas keangkaramurkaan, Semar akan memperlihatkan kesejatian dirinya. Akan tetapi dalam keseharian, Semar selalu berpenampilan sebagai sosok titah sawantah belaka. Isteri Semar adalah Dewi Kanistri, yang selalu ditinggal pergi karena panggilan tugas mulia sang suami dalam menghamba kepada pemimpin dan bangsanya. Kehidupan keluarga Semar lebih mengedepankan lakutama daripada gemerlap duniawi.

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.
Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.
Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar - mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

S E M A R dan Filosofinya

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranoyo

Bebrodo = Membangun sarana dari dasar
Noyo = Nayoko = Utusan mangrasul


Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah untuk kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik".
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar "kuncung" (jarwodoso/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat". Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman Prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Gambar Wayang Semar kiranya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya :
Yang wayang itu hanyalah kulit
Yang kulit itu bukan Hakekat
Samasekali bukan , Ia
Hanyalah lambang dan sifat-sifat
Nama-nama dan aspeknya
Yang dalam lambang itu Maya
Dalam Maya ada Ia
Ia adalah yang Maha Wisesa, Wenang wening
Ia tak tampak tapi ada
Ada ini sebagai ada yang pertama
Dan tidak pernah tidak ada
Adanya adalah tunggal
Adanya adalah Mutlak
Ia satu-satunya kenyataan
Ada adalah tak tampak mata
Gaib, misterius, samar
Karena yang ada mutlak itu Tunggal
Yang Tunggal adalah kebenaran
Kebenaran mutlak karena tak ada kebenaran yang mendua
Tan Hana Dharma Mngrwa
Jadi Sang Hyang Tunggal adalah Kebenaran
Sang Hyang Tunggal adalah Samarnya SEMAR
Samar adalah aspek sifat dan Nama
Samar ada pada SEMAR

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
semar1.gif (30938 bytes)
Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya "merdekanya jiwa dan sukma", maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : "dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup".


Thursday, April 21, 2011

Arti Agama

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.



Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll.
Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri , yaitu :
  • menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan
  • menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan
Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

 Sumber  :  Wikipedia.org

Wednesday, April 20, 2011

Kenapa Harus ada Setan

sumber gambar : www.fotografer.net

Setan selalu dikonotasikan sebagai hal negatif, hal yang menyeramkan dan sebagainya
sehingga yang ada pada pikiran kita adalah keburukan dari sosok setan itu sendiri
Setan tidak ada dengan sendirinya, setan ada juga karena kehendak-Nya
setan adalah bayangan buruk atas setiap perlakuan buruk terhadap dunia
dia lah yang membawa semua malapetaka pada dunia manusia
meski sebenarnya setan dan manusia adalah sama, tetap sama saja dia adalah ciptaan-Nya
Kemudian kenapa harus ada setan dalam dunia manusia...
jika kita mau kembali merenungkan kembali kepada sifat dasar manusia
manusia penuh dengan hawa nafsu, penuh dengan ketidakpuasan, penuh dengan ambisi
dan itulah fitrah-fitrah yang ada pada manusia, lantas kenapa harus ada (Setan)
Sederhana saja coba kita buat frame dari sisi dunia
Jika tidak ada kecil, bagaimana kita bisa mengerti besar
Jika tidak ada buruk, bagaimana kita bisa mengerti dengan cantik/indah
andai kita tak pernah mengerti apa itu pelangi mana mungkin kita bisa mengerti keindahan pelangi
andai kita tak mengerti fungsi oksigen pada kehidupan bagaimana kita bisa menjaga kelestarian ekosistem agar tetap seimbang pada siklus fotosintesisnya
dan lain sebagainya yang dapat kita lihat dari sisi dunia ini
sederhana saja dengan teori sebab akibat itu
jika kita tidak pernah mengerti bahwa Setan adalah hal yang buruk bagaimana kita bisa mengerti hal-hal baiknya...konotasi ini hanyalah sekedar media
pertanyaan selanjutnya adalah apa ada yang tidak sepakat bahwa melakukan hal yang "baik" itu adalah sesuatu yang terpuji, dan hal yang terpuji adalah perbuatan luhur yang berguna bagi kemanusiaan
Dengan adanya konotasi tersebut kita semua diharap selalu bisa membaca diri
dapat selalu mengerti apa arti manusia dalam dunia
Jika tidak ada cermin buruk bagaiman kita dapat mengerti hal yang baik
bayangkan saja betapa hampa nya jika cermin itu tidak ada...ketika semua menjadi semu saat semua menjadi sama dengan nilainya
tidak ada lagi warna yang menyadarkan kita, tidak ada beranda yang mengurung jiwa saat dia jauh dari-Nya
ini semua telah di desain sebegitu rapi dengan kesempurnaan sentuhan mahakarya
akan apa yang ada dalam semesta raya
semua ini akan kembali pada waktunya,semua akan hilang pada dimensinya
relatifitas dan universalitas anda akan mentafsirkan segalanya...teruslah berjalan

Sunday, April 17, 2011

Mohon Maaf Aku

Jika Kau dengar segala keluhku dalam setiap do'a
aku berharap akan sebuah pencerahan pada setiap langkahku
Jika kau tetap peduli dengan apa yang aku lakukan, aku ingin petunjuk terbaik-Mu segera dapat aku temukan dari perjalananku
ada kalanya aku merasa menderita dengan apa yang Kau berikan padaku
sering aku terlalu terluka jika ada nya ketiadaan ini terus menggelayuti dunia
aku berada dalam sebuah penantian, aku berada pada titik perseteruan
dimana ingin,harap dan usaha telah terbentur satu sama lain dengan realita
sepertinya semua menjadi kosong tanpa ada makna jika kau tak ada disisiku
Maaf ku selalu aku haturkan pada-Mu jika aku telah berbuat salah
aku sadar aku tidak lah sempurna
tetapi bukan berarti perbedaan itu dijadikan sumber pertentangan
karena perbedaan dan ketidaksempurnaan itu ada untuk dilengkapi
dalam lamunanku masih tetap padamu aku menunggu
jika pertanda itu adalah yang terbaik, aku harap tak lama lagi aku mencarinya
Hidayah-Mu yang senantiasa aku nanti
segala Ridho-Mu lah yang menjadi tujuan akhirku
mungkin aku terlalu angkuh dengan segala keinginanku
dan tak bisa mengerti apa yang Kau mengerti dengan segala kesempurnaanmu
dengan segala ketundukan ini aku berpasrah jika engkau menunjukan sesuatu yang lain
terima kasih telah menyadarkanku kembali ke dalam jiwa ini
in my pray...i hope you are my destiny

Friday, April 15, 2011

Tersesat di Surga

Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”

“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”