...

Tuesday, February 22, 2011

Berawal dari Diri

Sering kita mengeluhkan akan banyaknya problema yang ada
sering kita berontak meratapi derita yang tak kunjung reda
menunggu sesuatu yang sebenarnya tak pantas kita tunggu
menatap dengan mata akan apa yang ada di luar diri kita
Pernah kita mendengar cerita bahwa ada orang dengan cita - cita besar
yang ingin merubah dunia..tetapi dia lupa
lupa bahwa semua bukan berawal dari luar diri
semua ada pada diri kita sendiri
Semua berawal dari diri kita sendiri
sebuah jawaban ketidakmampuan mengelola diri
saat kita menganggap bahwa setiap permasalahan ada diluar sana

sumber masalah yang hanya dilihat dengan mata indra
tanpa bersama dengan mata hati melihat lebih jauh, lebih dalam
bahwa sebuah kekuatan besar itu ada pada diri

Dalam ... sebuah palung kedalaman jiwa yang membangkitkan segalanya
yang segalanya bisa jadi tak mampu menghentikan saat dia dengan tegap
berani bertindak melawan belenggu hati nurani
Setiap masalah itu bukan berasal dari orang lain, bukan dari lingkungan, bukan dari luar diri
Karena berusaha mengelola diri untuk menyesuaikan dengan yang ada
lebih sederhana dari pada kita merubah yang ada di luar sana
Kita lah harusnya yang paling kenal pada diri kita
Teruskan perjalanan menebar manfaat untuk apa yang ada disekitar kita

Wednesday, February 16, 2011

Rinduku (Aku Rela Menderita)

Rindu ku pada-Mu
seakan mewakili rasa cintaku padamu
rindu ini memang kusadari tak sebening lentera pagi
rindu yang memang tak kuasa aku menjaga nya
Terkadang engkau memang tak memberi apa yang aku harap
apa yang Kau sertakan dalam langkah ku seakan memperberat perjalananku
begitu banyaknya pesan yang ingin Kau sampaikan padaku
tetapi aku tak mampu membaca bahasamu

ku putus kan berhenti sejenak...menatap kembali ke langkahku
perjalanan lalu telah terlewati bersama dengan guguran semangat yang semakin menipis
terhenyak aku dalam sadarku...bahwa ada hal yang terlewati dari langkahku
ada berbagai macam hikmah dari semua itu...ada begitu banyak pelajaran
akhirnya aku mengerti bahwa Tuhan memberi ini agar aku bisa mengerti
memberi berbagai macam ujian yang membuatku semakin matang
sekian banyak derita yang membawa perjalananku semakin purna
aku rela menderita ... jika ini mampu menjaga rinduku tetap ada
aku rela menderita ... jika ini semakin dapat menambah cintaku pada-Mu
tetapi jika dengan bahagia juga aku dapat mencintai mu dan selalu merindukanmu
ini lebih baik jika disetiap saat aku dapat mengingat-Mu

Monday, February 14, 2011

Yang Paling Di Dunia

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau mengajukan beberapa pertanyaan:
Imam Ghazali = Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 = Orang tua
Murid 2 = Guru
Murid 3 = Teman
Murid 4 = Kaum kerabat
Imam Ghazali = Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran:185).

Imam Ghazali = Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?
Murid 1 = Negeri Cina
Murid 2 = Bulan
Murid 3 = Matahari
Murid 4 = Bintang-bintang
Iman Ghazali = Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling jauh adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.
Iman Ghazali = Apa yang paling besar di dunia ini?
Murid 1 = Gunung
Murid 2 = Matahari
Murid 3 = Bumi
Imam Ghazali = Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf:179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.
IMAM GHAZALI = Apa yang paling berat di dunia?
Murid 1 = Baja
Murid 2 = Besi
Murid 3 = Gajah
Imam Ghazali = Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab:72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.
Imam Ghazali = Apa yang paling ringan di dunia ini?
Murid 1 = Kapas
Murid 2 = Angin
Murid 3 = Debu
Murid 4 = Daun-daun
Imam Ghazali = Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.
Imam Ghazali = Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?
Murid-murid dengan serentak menjawab = Pedang
Imam Ghazali = Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Zuhud

Arti kata zuhud adalah tidak ingin kepada sesuatu dengan meninggalkannya. Menurut istilah zuhud adalah berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akherat.

Ada 3 tingkatan zuhud yaitu:
1. Tingkat Mubtadi’ (tingkat pemula) yaitu orang yang tidak memiliki sesuatu dan hatinya pun tidak ingin memilikinya.
2. Tingkat Mutahaqqiq yaitu orang yang bersikap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari harta benda duniawi karena ia tahu dunia ini tidak mendatangkan keuntungan baginya.
3. Tingkat Alim Muyaqqin yaitu orang yang tidak lagi memandang dunia ini mempunyai nilai, karena dunia hanya melalaikan orang dari mengingat Allah. (menurut Abu Nasr As Sarraj At Tusi) 

Menurut AI Gazali membagi zuhud juga dalam tiga tingkatan yaitu:
1. Meninggalkan sesuatu karena menginginkan sesuatu yang lebih baik dari padanya
2. Meninggalkan keduniaan karena mengharap sesuatu yang bersifat keakheratan
3. Meninggalkan segala sesuatu selain Allah karena terlalu mencintai-Nya
Dalam keterangan di atas dapat disimpulkan pandangan bahwa harta benda adalah se’suatu yang harus dihindari karena dianggap dapat memalingkan hati, dari mengingat tujuan perjalanan sufi yaitu Allah. Namun ada yang berpendapat bahwa zuhud bukan berarti semata-mata tidak mau memiliki harta benda dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi, tetapi sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri kepada Allah

Tuesday, February 8, 2011

Orang Pinggiran

Mereka berjalan menyusuri langkah panjang ini
mereka berlari mengejar mimpi yang terbangun dari dalam hati
mereka tersenyum melihat sapa dunia pagi
mereka tertawa bersama kawan seperjuangan melawan ilusi


hanya setumpuk sampah teman kesehariaanya
bersama gelisah yang merajut bersama berita
orang pinggiran yang terasingkan
tergerus oleh serakahnya orang - orang kota

Langkah panjang menyusuri setiap detik perjalanan ini
tetap mengayunkan cita - cita searah dengan semangat pantang menyerahnya
meski terbatas apa yang mereka miliki
tetapi keterbatasan itu tak pernah menjadi alasan dan penghalang untuk tetap terus maju

Kadang mereka menangis dengan apa yang ada dihadapnya
mereka bersedih melihat serakahnya orang yang tidak pernah bersyukur
atas apa yang telah Tuhan berikan padanya
atas apa yang dapat membuat mereka tetap bisa tertawa dengan riangnya

Berhari - hari hanya meneguk air bukan menjadi bencana
tak ada yang dapat nyaman masuk ke dalam mulutnya juga bukan pemutus asa
Tetap saja .... tetap saja hidup ini ada dengan segala keterbatasannya
berjalanlah dan terus berjalanlah .. hingga langkah ini tak dapat lagi terayun kembali

Ajaran Ahmadiyah Dalam Pandangan Ahlusunnah Wal Jamaah

Ditulis dalam Uncategorized pada 8:20 am oleh lazuardibirru

Sejarah Faham Ahmadiyah
Faham Ahmadiyah pertama kali muncul di Qadiyan, India (sekarang Pakistan). Faham ini dideklarasikan oleh pendirinya bernama Mirza Ghulam Ahmad 1836-1908 M yang lahir di tengah-tengah kaum Syi’ah Islamiyah di punjab kawasan Pakistan sekarang. Tahun 1890 Mirza Ghulam Ahmad (54 Th) mendakwahkan bahwa ia adalah seorang nabi sesudah nabi Muhammad Saw., atau nabi akhir zaman disamping mengaku Imam Mahdi al Ma’uhud atau titisan nabi Isa as, mujaddid dan juru selamat.
Sebagaimana disinggung di atas, bahwa Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan ditengah masyarakat penganut faham Syi’ah yang meyakini akan datangnya Imam Mahdi yang ‘adil yang akan membawa keadilan dan kedamaian untuk seluruh umat manusia. Kaum Syi’ah memang berpandangan bahwa kenabian dan kerasulan belum putus, mereka meyakini bahwa imam-imam mereka dianggap masih menerima wahyu dari Tuhan. Mirza Ghulam Ahmad bertindak lebih jauh dia bukan hanya mengaku sebagai Imam Mahdi al ma’uhud namun juga sebagai nabi yang benar-benar mendapat wahyu dari Tuhan.
Karena itu, Mirza Ghulam Ahmad bukan saja ditentang oleh kaum ahlusunnah wal jama’ah di seluruh dunia, tetapi juga oleh ulama-ulama Syi’ah yang berada di pakistan, Iran dan Yaman. Oleh karenanya Mirza Ghulam Ahmad akhirnya juga melawan dan menghantam pula kaum Syi’ah. Sebagaimana termaktub dalam buku-buku karyanya yang mengejek dan mengolok kaum syi’ah serta melecehkan cucu nabi Hasan dan Husen ra.
Ulama-ulama seluruh dunia pada saat itu telah mengeluarkan fatwa bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak lagi dalam lingkungan umat Islam karena dakwaannya sebagai nabi setelah nabi Muhammad Saw. yang terang-terang menentang sebuah ayat dalam al-Qur’an suci yang mengatakan bahwa nabi Muhammad khataminnabiyyin (penutup para nabi).
Berikut ini beberapa ulama di India yang menolak faham ahmadiyah :
- Maulana Muhammad Anwarullah Khan.
- Maulana Abul Hasan Gulam Mustahafa.
- Maulana Azizurrahman seorang mufti universitas Darul Ulum Dionband.
Akan tetapi kerajaan Inggris yang saat itu menguasai India menyokong gerakakan Ahmadiyah ini, karena diantara fatwanya ada yang sangat disukai oleh penjajah Inggris ketika itu, yaitu : jihad dalam Islam bukan dengan senjata, akan tetapi dengan lisan saja. Oleh karenanya fatwa ini sangat disukai oleh Inggris yang tengah menjajah India saat itu.
Di Indonesia sendiri faham ini mulai muncul sesudah perang dunia pertama, sehingga terdapat cabang-cabang gerakan Ahmadiayah di Jakarta, di Medan, di Padang dan lain-lain. Tapi faham ini di Indosneia kurang mendapat tanggapan dari masyarakat karena terus menerus ditentang oleh ulama-ulama Islam, khususnya ulama ahlussunnah wal jamaah.
Beberapa Ajaran Ahmadiyah yang Kontroversial
a. Seorang nabi dan rasul.
Dalam buku “Haqiqatul wahyi” halaman 391 Mirza Ghulam Ahmad berkata :“Bahwasanya Saya Rasul Tuhan kepada seluruh manusia” . ucapan diatas merupakan pengakuan Mirza Ghulam Ahmad yang mendakwakan dirinya adalah seorang nabi dan rasul sesudah nabi muhammad Saw. kemudia dalam buku “Izzatul Auhan” pagina 673, Mirza Ghulam Ahmad berkata :”Sayalah yang dikabarkan Tuhan dengan firman-Nya di dalam al-Qur’an :
واذقال عيسى ابن مريم يا بنى اسرائيل انى رسول الله اليكم مصدقا لما بين يدي من التوراة ومبشرا برسول يأتى من بعدى إسمه أحمد, فلما جاءهم با لبينات قالوا هذا سحر مبين
Artinya : Dan ketika Isa anak maryam berkata, hai bani Israil! Sesungguhnya aku ini utusan Allah untukmu, membenarkan wahyu sebelum aku, yaitu Taurat dan menyampaikan berita gembira akan kedatangan seorang Rasul kemudian namanya Ahmad, tetapi setelah Rasul itu datang kepada mereka dengan bukti yang nyata, mereka berkata : inilah tukang sihir yang nyata” (As Saf :6)
Dengan jelas Mirza Ghulam Ahmad telah memberikan interpertasi ayat diatas bahwa yang dimaksud dalam lafadz “minba’dii ismuhu Ahmad” adalah Mirza Ghulam Ahmad karena namanya adalah Ahmad. Sementara kelompok Ahlusunnah wal jama’ah berinterpertasi yang dimakdud pada ayat diatas adalah Muhammad Saw., Ahmad adalah nama pemberian Allah Swt.
b. Mirza sebagai al-masih al-mau’hud.
Mirza Ghulam Ahmad selain mendakwakan bahwa dirinya seorang nabi dan Rasul juga mengaku bahwa dirinya adalah Isa yang dijanjikan akan datang, yakni dirinya sendiri.
c. Anak dan khalifahnya Menerima wahyu
Bukan saja Mirza Ghulam Ahmad yang telah mengaku mendapatkan wahyu dari Tuhan anak dan khalifahnya juga mengaku menerima wahyu dari sang khaliq. Dalam sebuah buku “pengantar untuk mempelajari Al Qur’an” jilid III, pagina 76 disebutkan :…pada saat itu Tuhan menurunkan wahyu kepadaku, bahwa Tuhan akan melindungi dan memeliharaku dan memberikanku kemenangan dan akan menghancurkan mereka”. (dikeluarkan Yayasan Wisma Damai Bandung 1968).
d. Menyempurnakan syari’at Islam
Majalah Universitas “Al Azhar” Kairo tertanggal 1 Pebruari 1957 memuat pernyataan keyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai penyempurna ajaran Islam yang dibawa Rasul Muhammad Saw. Ia berpandangan Islam sebagai sebuah ajaran belumlah sempurna, karena itu ia diutus untuk menyempurnakannya. Mereka mengibaratkan Rasulululah hilal (bulan sabit) sementara Mirza GA badar (bulan purnama). Sebagaimana tertera dalam bendera Ahmadiyah :-Hilal (bulan sabit) –Badar (bulan purnama)–Menara.
e. Lebih mulya dari Abu Bakar dan nabi-nabi serta pernah bermimpi menjadi Tuhan
Mirza Ghulam Ahmad dalam bukunya “Mi’yarul Akhyar” berkata : “Saya lebih mulia dari Abu Bakar dan dari pada Nabi-nabi”. (Mi’yarul Akhyar hal, 11)
Tentang kesaksiannya bahwa dirinya pernah bermimpi menjadi Tuhan sebagaimana termaktub dalam “Ayinah Kamalat Islam” yang berbunyi :
“Saya mimpi bahwa saya adalah Tuhan, dan meyakini bahwa saya benar-benar Allah, dan terkhotarlah dalam hati saya ketika itu akan memperbaiki dunia ini dengan suatu peraturan baru, akan saya atur dengan undang-undang baru. Artinya saya jadikan langit dan bumi dengan situasi baru”. (Ayinah Kamalat Islam pagina 564-565).
Pandangan Ahlusunnah wal Jama’ah
a) pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan Rasul ditolak oleh jumhurul ulama, dan dikatakan sebuah kesesatan yang nyata!. Ahlussunnah wal jama’ah memberikan tafsiran surat As Saf : 6 sebagai berikut : bahwa yang dimaksud pada lafal “Ahmad” di ayat tersebut adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin qosoei bin Qilab Alquraisy bukan selainnya! Hal ini diperkuat dengan firman Allah Surat Al Ahzab :40.
ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله و خاتم النبيين
Artinya : “Nabi Muhammad itu bukan bapak seorang pun diantara anak laki-laki diantara kamu, tetapi beliau Rasulallah dan nabi penutup. Dan Tuhan Maha Tahu Atas segala sesuatu” (al Ahzab :40)
b) pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al Mahdi Al Mau’hud juga ditolak oleh Ahlussunnah wal jama’ah dan kelompok syi’ah, menurut kepercayan Ahlussunnah wal jama’ah bahwa nabi Isa As tidak dapat disalib oleh musuh dan yang disalip adalah orang yang diserupakan dengan nabi Isa As. Dan pengakuan tersebut juga bertentangan dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Sebagai berikut :
عن أبى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسام : والذي نفسى بيده ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكما عدلا فيكسر الصليب ويقتل الحنزير ويصنع الحرب ويفيض الدمع حتى لايقبله أحد. (الحديث رواه البخارى)
Artinya : Dari Abu Hurairah Ra. Berkata, Rasululullah Saw. bersabda :D emi Tuhan yang diriku ditangan-Nya, akan turun Isa ibnu Maryam kepadamu menjadi hakim ‘adil, maka ia memecah salib, membunuh babi, menghentikan peperangan dan melimpahkan harta yang banyak sehingga tak ada lagi yang akan menerimanya. (HR. Bukhori-Sahih Bukhori II hal, 174)
Dari hadits diatas telah jelas bahwa Allah akan menurunkan Isa Ibnu Maryam bukan Mirza GA Ibnu Maryam. Dan juga dijelaskan bahwa Isa akan membunuh sekalian babi dan merusak salib, ia akan menegakkan keadilan dan mensejahterakan umat manusia dalam bentuk melimpahkan harta kekayaannya. Sepanjang sejarah Mirza GA sudahkah melakukan itu?
c) pengakuan Mirza Ghulam Ahmad bahwa ia dan keturunannya menerima wahyu jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang suci, karena Rasul Muhammad Saw telah menyatakan bahwa nabi dan kenabian sudah tidak ada lagi setelahnya. Karena wahyu hanya Allah turunkan kepada para nabi dan Rasul-Nya saja, maka dengan tidak adanya nabi lagi maka tidak ada wahyu yang disalahgunakan.
d) pernyataan Mirza Ghulam Ahmad bahwa ia sebagai penyempurna syari’at Islam adalah bertentangan dengan Firman Allah Surat Al Ma’idah : 3 yang artinya :
أليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلام دينا
“Hari ini telah aku sempurnakan agamamu untukmu, telah aku cukupkan nikmatKu bagimu dan Aku telah meridloi Islam sebagai agamamu”.
e) soal pernyataan Mirza GA bahwa ia lebih mulia dari abu Bakar dan pernah bermimpi menjadi Tuhan jelas sebuah kebohongan yang tidak terbantahkan menurut Ahlusunnah wal jama’ah. Karena Ahlusunnah wal jama’ah meyakini bahwa yang mulia disisi Allah setelah Rasulullah Muhammad Saw. adalah para Rasul-rasul ke mudian para nabi-nabi yang lain sesudah itu para malaikat dan selanjutnya baru manusia. Sementara Mirza GA tidak ada pada deretan nabi dan rasul sehingga tidak terbukti pengakuannya tersebut.
Wallu ‘alam bishowab!

Friday, February 4, 2011

Pemimpin



Pemimpin tidak menggunakan kekuasaan secara otoriter, tetapi mengajak dan meminta dukungan partisipatif dari anggota tim. Kita bisa menyaksikan dalam berbagai situasi sulit, banyak individu atau anggota kelompok, yang dengan rela mengorbankan waktu dan spiritnya demi tercapainya tujuan dengan penuh kerelaan hati tanpa tekanan. “Saya lembur karena kita memang harus mengejar deadline. Bukan semata karena disuruh atasan. Keluarga memang dikorbankan, tetapi ini tidak terjadi setiap hari, kok,” demikian ungkap seorang karyawan. Bukankan situasi kepemimpinan seperti ini lebih indah dan menyenangkan daripada situasi penuh penekanan?
 Apa pun posisi kita, sekalipun kita berada dalam situasi memberi nafkah, kita bisa belajar untuk mengundang kemurahan hati orang lain. Kita sebenarnya bisa mengganti mindset dengan berpikir bahwa kita sedang dikelilingi para volunteer. Kita bisa berlatih lebih banyak membuat request daripada memerintah. Kita perlu meyakini bahwa membangun hubungan penuh rasa percaya lebih powerful daripada membuat hierarki dan struktur politik. Secara otomatis, kerendahan hati justru menciptakan power dalam bentuk lain.
 “Power” bisa mengembangkan jiwa
Tak jarang kita mendengar sikap pesimistis dan ungkapan tidak berdaya, misalnya “Kita belum merespons penawaran Anda karena atasan belum membacanya”, atau “Kalau formulir tidak lengkap, kita tidak bisa proses”.
Dengan pemahaman bahwa kuasa tidak selamanya identik dengan otoritas dan tekanan, kita sebetulnya akan bisa mengembangkan power-power baru dan menghindari sikap helplessness. Power modern bisa kita tumbuhkan dari kekuatan menjangkau informasi, kekuatan interpersonal, serta kekuatan menghantarkan  jasa dan produk yang berkualitas. Bukankah kita percaya bahwa hubungan baik dan trust dari rekan kerja, bawahan, dan klien akan menumbuhkan spirit tim yang tidak terharga nilainya dan begitu besar kekuatannya. Ini semua tentu saja akan membuat kita bisa menumbuhkan rasa aman, kepercayaan diri, sekaligus memperkaya jiwa.


Wednesday, February 2, 2011

Perjalanan Khidr dan Musa

Demikianlah seterusnya Musa mengikuti Khidir dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahawa baginda tidak akan bertanya sebab sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khidir. Setiap tindakan Nabi Khidir a.s. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa terperanjat.
Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir memperingatkan janji Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf karena kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khidir.
Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidir.
Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.
Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.
Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki.
Akhirnya Nabi Musa as. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.
Saat mereka didalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan paruhnya, lalu Nabi Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air laut ini karena diteguk sedikit airnya oleh burung ini.”
Sebelum berpisah, Khidir berpesan kepada Musa: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.”

Hikmah kisah Khidir

Dari kisah Khidir ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Diantaranya adalah Ilmu merupakan karunia Allah SWT, tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugrah dari Allah SWT yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (Ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan terpilih)
Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami. Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari guru. Kisah Nabi Khidir ini juga menunjukan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.

Teguran Allah kepada Musa

Kisah Musa dan Khiḍr dituturkan oleh Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab menceritakan bahawa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”
Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shalih itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut.
Musa kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.
Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya' tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa Mereka kemudiannya meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya,
Nabi Musa berkata kepada Yusya` “Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Surah Al-Kahfi : 62)
Ibn `Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.” Yusya’ berkata kepada Nabi Musa,
“Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh.” (Surah Al-Kahfi : 63)
Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.
Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (Surah Al-Kahfi : 64)
Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahawa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.

[sunting] Persyaratan belajar

Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya. Khidir menjawab salamnya dan bertanya, “Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan? Siapakah kamu” Jawab Musa, “Aku adalah Musa.” Khidir bertanya lagi, “Musa dari Bani Isra’il?” Nabi Musa menjawab, “Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan.”
Khidir menegaskan, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi : 67) “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.”
Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69)
Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70)

Belajarlah dari Dunia

Cerita tetang pelit dan sombong, saya jadi teringat dengan kisah seorang kaya dari bani Israil yang sedang duduk makan siang bersama-sama istrinya. Di atas meja tersedia segala macam hidangan diantaranya ada ayam panggang. Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu. Istrinya pun berkata kepada suaminya ”Pak! Ada pengemis di depan rumah, kasiahan pak. Apakah kita bersedekah kepadanya dengan sepotong ayam panggang? Sang suami tiba-tiba membentaknya “Jangan! usirlah pengemis itu dari depan rumah!.

Dunia pun berputar, hari berganti hari, bulan berubah menajdi tahun. Si kaya yang digenangi dengan segala macam kenikmatan berobah menjadi miskin. Istri kesayanganya ditalaknya. Setelah ditalak sang istri kawin lagi dengan seorang laki laki kaya. Kemuadian terulang lagi peristiwa sang istri makan siang bersama-sama suaminya yang baru. Tentu di atas meja terhidang segala macam makanan, dan tidak ketinggalan pula terdapat seporsi ayam panggang. Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu meminta makanan. Sang suami berkata kepada istrinya dengan penuh rahmah: “Ambilah sepiring nasi dan sepotong ayam panggang sebagai lauknya, berikanlah kepada pengemis itu”. Setelah nasi dan ayam panggang diberikan kepada si pengemis, sang istri pun menangis. Suaminya sangat heran dan bertanya: “kenapa dik kamu menangis? Apakah kamu marah karena aku memberi pengemis itu nasi dan ayam panggang?”. Istrinya menjawab: “ tidak pak, tidak sama sekali,  akan tetapi aku menangis karena ada sesuatu yang sangat ganjil dan ajaib”. Sang suami jadi penasaran ingin tahu apa yang ganjil dan ajaib itu. Ia pun bertanya: “Bu, apa gerangan yang ganjil dan ajaib itu? ”. Istrinya menjawab: “Apakah kamu tahu siapa pengemis yang datang di depan pintu tadi? Sesungguhnya ia adalah suamiku yang pertama”. Mendengar ulasan sang istri, sang Suami segra berkata kepada istrinya “Apakan kamu tahu siapa aku sebenarnya? Sesungguhnya aku adalah pengemis pertama yang datang dulu ke rumahmu”.

Subhanallah, Itulah dunia. Makanya janganlah sekali-kali menghina atau meremehkan seseorang, kemungkinan penghinaan itu bisa berbalik kepada diri penghina. Tuhan memberi rahmah kepada orang yang dihina dan sebaliknya diberikan kutukan dan musibah kepada penghina. Janganlah menghina orang miskin, orang bodoh, orang lemah siapa tahu Allah mengangkat derajatnya di kemudian hari, dan dijadikan penghina menjadi terhina dihadapanya. Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau ia
sedang  berada di atas jangalah sombong, angkuh dan bangga, sebaliknya kalau ia berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit itu ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintun gerbangya:  “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17

” Katakanlah :  Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas ” al-Quran

Maka,
“Cintailah yang dibumi agar yang di langit mencitaimu”

Wallahu’alam