...

Wednesday, February 2, 2011

Perjalanan Khidr dan Musa

Demikianlah seterusnya Musa mengikuti Khidir dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahawa baginda tidak akan bertanya sebab sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khidir. Setiap tindakan Nabi Khidir a.s. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa terperanjat.
Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir memperingatkan janji Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf karena kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khidir.
Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidir.
Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.
Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.
Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki.
Akhirnya Nabi Musa as. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.
Saat mereka didalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan paruhnya, lalu Nabi Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air laut ini karena diteguk sedikit airnya oleh burung ini.”
Sebelum berpisah, Khidir berpesan kepada Musa: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.”

Hikmah kisah Khidir

Dari kisah Khidir ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Diantaranya adalah Ilmu merupakan karunia Allah SWT, tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugrah dari Allah SWT yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (Ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan terpilih)
Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami. Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari guru. Kisah Nabi Khidir ini juga menunjukan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.

Teguran Allah kepada Musa

Kisah Musa dan Khiḍr dituturkan oleh Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab menceritakan bahawa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”
Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shalih itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut.
Musa kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.
Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya' tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa Mereka kemudiannya meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya,
Nabi Musa berkata kepada Yusya` “Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Surah Al-Kahfi : 62)
Ibn `Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.” Yusya’ berkata kepada Nabi Musa,
“Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh.” (Surah Al-Kahfi : 63)
Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.
Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (Surah Al-Kahfi : 64)
Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahawa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.

[sunting] Persyaratan belajar

Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya. Khidir menjawab salamnya dan bertanya, “Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan? Siapakah kamu” Jawab Musa, “Aku adalah Musa.” Khidir bertanya lagi, “Musa dari Bani Isra’il?” Nabi Musa menjawab, “Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan.”
Khidir menegaskan, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi : 67) “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.”
Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69)
Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70)

Belajarlah dari Dunia

Cerita tetang pelit dan sombong, saya jadi teringat dengan kisah seorang kaya dari bani Israil yang sedang duduk makan siang bersama-sama istrinya. Di atas meja tersedia segala macam hidangan diantaranya ada ayam panggang. Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu. Istrinya pun berkata kepada suaminya ”Pak! Ada pengemis di depan rumah, kasiahan pak. Apakah kita bersedekah kepadanya dengan sepotong ayam panggang? Sang suami tiba-tiba membentaknya “Jangan! usirlah pengemis itu dari depan rumah!.

Dunia pun berputar, hari berganti hari, bulan berubah menajdi tahun. Si kaya yang digenangi dengan segala macam kenikmatan berobah menjadi miskin. Istri kesayanganya ditalaknya. Setelah ditalak sang istri kawin lagi dengan seorang laki laki kaya. Kemuadian terulang lagi peristiwa sang istri makan siang bersama-sama suaminya yang baru. Tentu di atas meja terhidang segala macam makanan, dan tidak ketinggalan pula terdapat seporsi ayam panggang. Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu meminta makanan. Sang suami berkata kepada istrinya dengan penuh rahmah: “Ambilah sepiring nasi dan sepotong ayam panggang sebagai lauknya, berikanlah kepada pengemis itu”. Setelah nasi dan ayam panggang diberikan kepada si pengemis, sang istri pun menangis. Suaminya sangat heran dan bertanya: “kenapa dik kamu menangis? Apakah kamu marah karena aku memberi pengemis itu nasi dan ayam panggang?”. Istrinya menjawab: “ tidak pak, tidak sama sekali,  akan tetapi aku menangis karena ada sesuatu yang sangat ganjil dan ajaib”. Sang suami jadi penasaran ingin tahu apa yang ganjil dan ajaib itu. Ia pun bertanya: “Bu, apa gerangan yang ganjil dan ajaib itu? ”. Istrinya menjawab: “Apakah kamu tahu siapa pengemis yang datang di depan pintu tadi? Sesungguhnya ia adalah suamiku yang pertama”. Mendengar ulasan sang istri, sang Suami segra berkata kepada istrinya “Apakan kamu tahu siapa aku sebenarnya? Sesungguhnya aku adalah pengemis pertama yang datang dulu ke rumahmu”.

Subhanallah, Itulah dunia. Makanya janganlah sekali-kali menghina atau meremehkan seseorang, kemungkinan penghinaan itu bisa berbalik kepada diri penghina. Tuhan memberi rahmah kepada orang yang dihina dan sebaliknya diberikan kutukan dan musibah kepada penghina. Janganlah menghina orang miskin, orang bodoh, orang lemah siapa tahu Allah mengangkat derajatnya di kemudian hari, dan dijadikan penghina menjadi terhina dihadapanya. Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau ia
sedang  berada di atas jangalah sombong, angkuh dan bangga, sebaliknya kalau ia berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit itu ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintun gerbangya:  “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17

” Katakanlah :  Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas ” al-Quran

Maka,
“Cintailah yang dibumi agar yang di langit mencitaimu”

Wallahu’alam

Thursday, January 27, 2011

Dunia pasti Berputar

Pagi yang kembali pagi lagi
Gelap yang pasti bertemu gelap kembali
cahaya matahari akan bertemu kembali dengan mata esok hari
kicau camar meneriakan kelakar siang
dan semua akan berjalan begitu saja
Berjalan selangkah dengan apa yang telah tergaris
pada rantai hidup ... pada jembatan jiwa akan bertemunya
bertemunya jiwa yang lelah akan penantian
penantian panjang pada sebuah berita
berita dari langit yang membawa canda
berita dari langit yang membawa secercah cinta bahwa hidup tak lagi gundah
hidup ini akan tetap berkah jika kita mampu menjaga amarah
keseimbangan jiwa akan kebutuhan nyata dan fana
Jangan terus terjerembab dalam kalah
sebab keputus asaan tidak akan dapat menjawab tanyamu

Tuesday, January 25, 2011

Satu Rahasia Mujarab Terkabulnya Doa Yang Justru Kita Lewatkan


Doa adalah senjata kaum muslimin, apa jadinya bila senjata itu tumpul dan tidak mempan. Bagaimana senjata itu sekarang begitu tumpul dirasakan bahkan seorang ulama pun yang memegangnya tidak terasa apa apa. Ada apa dibalik tidak terkabulnya doa Manusia sekarang ?. Anda akan heran bagaimana doa seseorang tidak dapat dikabulkan justru karena sesuatu hal yang sebenarnya menurut kita sepele. Apakah Itu?

Tepat, Makanan yang kita makan ternyata sangat mempengaruhi kekuatan sebuah doa.

Doa akan sangat mudah sekali dikabulkan ketika hati kita bersih, Dan hati berhubungan dengan darah, sedangkan darah erat kaitannya dengan sesuatu yang kita makan dan kita pikirkan. Darah juga lah yang akan menjadi saksi syahid tidaknya seseorang. Anda Ingat para syahid yang darahnya terus mengucur segar ketika sudah meninggal lama?. Menurut anda bagaimana keadaan darahnya saat itu.

Perhatikan sabda Rosulullah berikut :
Sa’ad bin Abi Waqash pernah meminta dido’akan Nabi saw agar do’a-do’anya senantiasa dikabul. Maka Nabi bersabda, ”Hai Sa’ad, perbaiki makananmu, tentu do’amu akan dikabulkan. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya seorang hamba yang memasukkan makanan haram di dalam mulutnya tidak akan diterima amalnya selama 40 hari. Dan siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari barang haram, neraka lebih utama baginya!” (HR. Thabrani).

Akan percuma sekali jika kita sudah mengerti dan pandai tata cara, rukun, adab dan syarat serta waktu terkabulnya doa sedangkan kita melupakan hal yang justru sangat penting yang pernah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad sekalipun anda seorang ahli ibadah, hal ini hanya akan menjadi senda gurau dan bahan olokan syetan.

”Sesungguhnya jika ada seseorang yang taat beribadah, setan akan berkata kepada kawan-kawannya, ’Lihatlah dari mana makanannya’. Jika makanannya berasal dari yang haram, maka setan berkata, ’Biarkan saaja dia berpayah-payah dan bersungguh-sungguh (beribadah), sungguh telah cukup bagi kalian dirinya itu. Sesungguhnya kesungguhan beribadahnya beserta makan barang haram tidak akan membawa manfaat”. (HR. Muslim)

Perhatikan juga kisah beliau tentang seorang laki-laki yang sedang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut masai dan kedua kakinya berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke arah langit seraya berkata, "Ya Rabbi…!Ya Rabbi…! Namun makanannya haram, minumannya haram, dan ia dibesarkan dari barang yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya akan terkabul?!"

Coba perhatikan lafadzh "dan dia dibesarkan dari makanan yang haram." Beliau seakan mengisyaratkan dengan lafadzh tadi

Walhasil doa kita akan sangat mudah dikabulkan jika suasana darah kita bersih.

SUMBER : MUJAROBAT LENGKAP

Monday, January 24, 2011

Tunduk dalam Sesal


                                                    Picture from : zimboliz.blogspot.com
Tertundukkan tubuhku...teringatkan dosa-dosaku
terlintas masa lalu ... kelabu hilangkan sukaku
hatiku kini terasa pilu ... sesalku butakan akalku
hidupku slalu gegap terpaku ... jika terdengarkan asma-Mu
diri ini menjadi sangat lemah ... jika asa telah terputus
jiwa ini menjadi sangat sepi ... saat pelangi harap tak tampak cerah lagi
semua berubah
semau berontak ......................
seakan telah lelah akan sebuah kebohongan
kebohongan kesemuan dimensi yang menjerat akal
pada kuasa (kekuasaan fana) dalam dunia
yang tak mampu tertanam pada pondasi yang kuat
kuasa akan sebuah amanah yang terbelok pada fatamorgana
kejerumusan dunia kelam ini adalah fatamorganan nyata
Terima kasih .. Engkau telah menjaga ku kembali
Engkau telah mengingatkanku bahwa ini bukanlah segalanya
Tunduk ku kembali pada Kuasa-Mu

Thursday, January 20, 2011

Seorang Penguasa yang Zuhud

Amir Ibnu Sa'ad telah menetap setahun di kota Homs, tetapi ia belum pernah menulis sebuah surat laporanpun kepada Amirul Mu'minin, Umar Ibnul Khattab, dan belum pernah pula mengirim harta rampasan perang sedikitpun, sehingga Umar berpikir curiga kepadanya. Maka ia menulis surat kepadanya,
            "Jika surat ini telah sampai kepadamu, maka datanglah engkau ke mari dan bawalah sejumlah harta rampasan perang yang telah engkau kumpulkan."
            Setelah menerima surat dari Umar, maka ia segera menyiapkan perbekalannya, air minumnya dan kantong air wudlunya. Kemudian ia memegang tombaknya dan melangkahkan kakinya hingga di kota Madinah. Ia tiba dihadapan Umar sedang wajahnya pucat, tubuhnya kurus, rambutnya amburadul, dan badannya letih karena telah menempuh perjalanan jauh.
            Umar terkejut ketika melihat keadaan Amir, maka ia berkata, "mengapa keadaanmu seperti ini?"
            "Bukankah engkau lihat aku dalam keadaan sehat, darahku bersih dan aku membawa harta semampuku?" jawab Amir.
            "Apa yang kau bawa?" tanya Umar. Umar mengira bahwa ia membawa harta yang banyak.
            "Aku membawa sebuah kantong untuk menyimpan perbekalanku, piringku, dan sebuah timba untuk menyiram kapalaku dan mencuci bajuku. Selain itu, aku mempunyai kantong air untuk wudluku dan minumku. Dan tombakku ini untuk tongkatku, untuk membunuh musuhku. Hanya ini harta yang aku miliki," jawab Amir.
            "Apakah engkau datang ke mari dengan berjalan?" tanya Umar.
            "Ya," jawab Amir.
            "Apakah tidak ada orang lain yang memberimu kendaraan?" tanya Umar.
            "Mereka tidak pernah melakukannya dan akupun tidak pernah memintanya," jawab Amir.
            "Kalau begitu mereka adalah seburuk-buruk umat Islam," kata Umar.
            "Takutlah kepada Allah, wahai Umar, sesungguhnya Allah telah melarangmu untuk menyebut kesalahan orang lain," jawab Amir.
            "Mengapa engkau tidak membawa harta dari baitul maal?" tanya Umar.
            "Aku tidak membawa sedikitpun dari harta itu," jawab Amir.
            "Mengapa demikian?" tanya Umar.
            "Jika engkau mengutusku ke kota Homs, maka aku mengumpulkan orang-orang baik di antara mereka, dan mereka aku beri tugas untuk mengumpulkan harta rampasan perang di antara mereka. Setelah mereka mengumpulkannya, maka aku membagikannya kepada mereka dengan baik, dan andai kata masih ada sisanya, pasti aku akan membawanya kepadamu," jawab Amir.
            Umar berkata kepada juru tulisnya, "perbaharuilah perjanjian baru bagi Amir untuk memenuhi tugasnya."
            "Tidak, aku tidak akan menerima tugas itu sedikitpun, aku tidak akan bekerja untukmu maupun untuk orang lain setelah ini, wahai Amirul Mu'minin," kata Amir.
            Kemudian ia minta izin untuk pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah.
            Umar menyuruh Al Harits untuk menyelidiki keadaan Amir sesungguhnya. Ia disuruh bertamu ke rumah Amir untuk melihat apakah ia mempunyai kekayaan ataukah ia memang miskin, dan ia dibekali seratus dinar utnuk diberikan kepadanya jika ia termasuk orang miskin.
            Al Harits datang bertamu ke rumah Amir Ibnu Sa'ad selama tiga malam. Setiap malam, ia mengeluarkan sepotong roti untuk si Al Harits, tamunya..
            Pada hari yang ketiga, Amir berkata kepadanya, "sesungguhnya kedatanganmu ke mari membuat kami lapar, jika menurutmu engkau dapat meninggalkan kami, maka kerjakanlah, karena kami tidak mempunyai apapun untuk kami berikan kepadamu."
            Pada saat itulah Al harits mengeluarkan uang seratus dinar dan menyerahkannya kapada Amir.
            "Untuk apa ini?" tanya Amir.
            "Uang ini sengaja dikirim untukmu oleh Amirul Mu'minin," jawab Al Harits.
            "Kembalikanlah uang itu kepadanya, sampaikanlah salamku untuknya dan katakan bahwa aku tidak butuh uang," kata Amir.
            Mendengar ucapan si Amir, maka istrinya menjerit, "wahai Amir, terimalah uang itu, jika engkau membutuhkannya, maka engkau dapat membelanjakannya, kalau tidak, maka simpanlah di sini karena masih banyak yang membutuhkannya."
            Mendengar ucapan istri Amir seperti itu, maka Al Harits meletakkan kantong uang itu di rumah Amir dan ia segera pergi.
            Maka Amir memungut uang itu dan segera membagikannya kapada orang-orang yang membutuhkan, khususnya bagi keluarga para syuhada'.
            Sesampainya harits di Madinah, maka Umar bertanya, "bagaimana engkau lihat keadaan Amir?"
            "Keadaannya amat memprihatinkan, wahai Amirul Mu'minin," jawab Harits.
            "Apakah telah engkau serahkan uang itu kepadanya?" tanya Umar.
            "Uang itu sudah aku serahkan kepadanya, wahai Amirul Mu'minin," jawab Al Harits.
            "Apa yang ia lakukan dengan uang itu?" tanya Umar.
            "Aku tidak tahu, menurutku, ia hanya menyisakan satu dinar saja untuk dirinya," jawab Al Harits.
            Maka Umar menulis surat kepada Amir Ibnu Sa'ad, "jika suratku ini tiba kepadamu, maka datanglah segera ke mari."
            Amir Ibnu Sa'ad segera meghadap kepada Amirul Mu'minin, Umar Ibnul Khattab, dan kedatangannya disambut baik oleh Umar.
            "Apa yang kau lakukan dengan uang sebanyak itu, wahai Amir?" tanya Umar.
            "Aku telah melakukan apa saja yang ingin aku lakukan, dan apa maksud pertanyaanmu tentang uang itu?" jawab Amir.
            "Aku ingin engkau beri tahu untuk apa uang sebanyak itu?" jawab Umar.
            "Aku tabung untuk kepentingan diriku dihari kiamat," jawab Amir.
            Mendengar ucapan Amir seperti itu, maka Umar meneteskan air mata dan berkata, "Semoga Allah merahmati engkau, wahai Amir."
            Kemudian Umar memberikan sejumlah makanan dan dua buah pakaian. Tetapi Amir berkata, "aku tidak dapat menerima makananmu ini, wahai Amirul Mu'minin, sebab aku masih menyimpan sejumlah makanan untuk keluargaku. Aku hanya dapat menerima kedua pakaian ini untuk istriku, karena semua pakaiannya telah usang, sehingga ia hampir tidak mempunyai pakaian."
            Tak lama setelah kejadian itu, Amir wafat dalam keadaan yang sangat miskin dan Umar merasa kecewa, karena kematiannya.
            "Alangkah untungnya jika aku mempunyai beberapa pembantu seperti Umar Ibnul Sa'ad yang akan aku tugasi untuk mengatur keperluan kaum muslimin," kata Uamr.